Karangan Bunga Spesial

Ayub 23:10; Amsal 24:10

Emilia baru saja menikmati kehidupan yang sangat menyenangkan. Keuangan cukup, kesehatan baik, pekerjaan suami diberkati, para sahabat memedulikannya. Tetapi pada bulan keempat kehamilannya, ia mengalami kecelakaan sehingga harus kehilangan janin yang ada dalam kandungannya. Seolah tidak cukup, perusahaan tempat suaminya bekerja terancam bangkrut. Saudaranya yang setiap tahun datang mengunjunginya, di hari ucapan syukur kali ini tidak bisa datang.

Salah seorang teman Emilia menganjurkan agar ia mengucap syukur atas semua kejadian yang ia alami, karena itu akan mendewasakannya. “Mengucap syukur? Apa yang harus disyukuri? Aku mengalami banyak hal buruk,” gumamnya dalam hati.

Pagi itu Emilia mendatangi toko bunga. “Aku pesan sebuah karangan bunga,” katanya. “Untuk hari ucapan syukur?” tanya penjaga toko. “Tidak. Rasanya tidak ada yang perlu disyukuri, beberapa bulan belakangan ini aku mengalami banyak kejadian menyesakkan,” jawab Emilia. “O, mungkin kau mau mencoba karangan bunga special? Salah seorang pelanggan kami sangat menyukainya karena karangan bunga itu bercerita banyak mengenai jalan hidupnya,” kata penjaga toko menawarkan. Sementara mereka berbincang, seorang wanita bernama Barbara masuk. “Aku mau mengambil pesananku, apakah sudah selesai?” “Tentu, aku sudah menyiapkannya. Mau dimasukkan ke dalam kotak atau tidak?” kata penjaga toko. “Tidak, terima kasih,” jawab Barbara. Penjaga toko pun mengambil karangan bunga pesanan Barbara. Karangan bunga yang lain dari yang lain, hanya rangkaian cabang-cabang mawar beserta durinya, dan tak satu pun kelihatan bunga di sana. Emilia menatap heran. Penjaga toko menjelaskan kepada Emilia, “Tiga tahun yang lalu Barbara datang ke toko ini dengan perasaan seperti yang kau alami saat ini. Ia tidak ada alasan untuk mengucap syukur. Ayahnya meninggal, anaknya terjerat narkoba, usaha keluarganya gagal, dan ia sendiri harus menjalani operasi besar. Aku pun pernah punya pengalaman yang sama. Aku kehilangan suami dan anakku, tidak ada keluarga yang dekat, hutangku menumpuk dan untuk pertama kalinya aku menjalani hidup seorang diri,” tutur penjaga toko. “Lalu apa yang kau lakukan?” tanya Emilia. “Aku belajar mengucap syukur bukan hanya untuk ‘bunga-bunga’, melainkan juga untuk ‘duri-duri’ dalam hidupku, karena itu penting untuk mendewasakanku.” “Kalau begitu, aku pesan karangan bunga spesial itu sebagai ucapan syukurku,” ujar Emilia dengan senyum manis dan wajah penuh sukacita.

Bersyukurlah dan jangan tawar hati ketika dalam kesesakan. Jika selama ini kita hanya bersyukur untuk keadaan yang menyenangkan, kini saatnya kita belajar bersyukur untuk keadaan yang tidak menyenangkan. Di saat melalui lembah kekelaman kita akan menikmati penghiburan dan pemeliharaan khusus, sehingga kita semakin mengenal Dia.

Manna Sorgawi, 19 Desember 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s