Boneka Bayi Yesus

Matius 1:23; Ayub 10:12; 19:25

Tahun ini adalah Natal yang menyedihkan bagiku. Aku merasa sangat getir dan patah semangat karena orang tuaku. Setelah tiga puluh enam tahun menikah, mereka memutuskan untuk bercerai. Aku tak bisa menerima keputusan itu, dan aku menjadi tertekan. Pikiranku terus dipenuhi kenangan masa kecil dan indahnya kebersamaan Natal. Aku khawatir takkan pernah lagi merasakan semangat Natal.

Kini aku telah beranjak dewasa, namun tidak pernah mengerti dan menikmati indahnya suasana dan makna Natal. Suatu kali menjelang Natal, aku pergi ke toko untuk membeli pita dan kertas pembungkus. Setelah melihat antrean panjang di kasir, aku memutuskan untuk membatalkan rencanaku dan meninggalkan toko itu ketika tiba-tiba aku mendengar sebuah bentakan yang tajam dan keras. “Sarah! Keluarkan barang itu dari mulutmu sekarang juga!” “Tapi, Ibu aku tidak memasukkannya ke dalam mulutku! Aku sedang menciumnya, lihat ibu, ini boneka bayi Yesus!” Ketika mendengar suara itu dari lorong sebelah, aku mulai mengintip dari sela-sela rak toko. Aku melihat seorang bocah yang berusia sekitar lima tahun. Dengan pakaian yang agak kumal dan sedikit longgar. Aku terus mengamatinya ketika ia menempelkan boneka kecil itu ke pipinya, dan ia mulai bersenandung. Air mataku perlahan menetes ketika aku mengenali melodinya. Satu lagu kenangan di masa kecilku. Kemudian aku mengalihkan pandanganku ke arah ibunya. Ia tidak memerhatikan anaknya tetapi sibuk mencari barang diskon. Seperti putrinya, ia agak kumal. Dalam kereta belanjanya terdapat bayi kecil yang terbungkus hangat dengan selimut yang sudah kusam. “Ibu!” panggil bocah itu, “bisakah membeli boneka bayi Yesus ini?” Dengan marah perempuan itu berbalik ke arah anak itu untuk melarangnya. Dalam beberapa menit suasana dipenuhi keheningan, perempuan itu pun mulai menangis. Anak kecil itu seolah mengerti keputusasaannya. “Jangan menangis ibu! Aku mohon! Aku minta maaf! Aku tidak ingin boneka ini, lihat aku mengembalikannya! Aku memang tidak benar-benar memerlukan boneka bayi Yesus ini. Ibu tahu kenapa? Karena guru Sekolah Mingguku berkata bahwa sebenarnya Ia hidup di dalam hati kita.” Sang ibu memeluknya, “Maafkan Ibu sayang, kita tak punya cukup uang untuk itu!” Mereka pun berbalik menuju kasir.

Aku menatap boneka itu dan menyadari bahwa Bayi yang dilahirkan di kandang sekitar dua ribu tahun lalu adalah Seorang yang masih berjalan bersama kita sekarang. Ia membuat kehadiranNya diketahui, membantu kita menjalani berbagai kesulitan hidup, jika saja kita memberiNya kesempatan. Untuk bisa ikut merasakan keajaiban Natal dan untuk bisa melihat Tuhan dalam diri Kristus, aku tahu pertama-tama kita harus merasakan kehadiranNya dalam hati kecil kita. Dengan segera aku membelinya dan memberikan boneka itu pada bocah tersebut. Ucapan terima kasihnya yang sederhana telah menyentuh hatiku.

Manna Sorgawi, 20 Desember 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s