Ketika Keadaan Berubah

Mazmur 46:2-3; 1 Tesalonika 5:18

Suasana salah satu ruang perawatan pasien pagi itu mendadak tidak nyaman. “Makanan apa ini? Daging sekeras ini apa bisa dimakan? Seperti makanan bebek saja. Ruangannya panas lagi … ruang kelas dua apaan seperti ini. Pindahkan saya cepat dari sini,” desak wanita yang sudah berambut putih tersebut pada seorang anak laki-lakinya. “Ah Mama seperti anak kecil saja,” jawab anaknya. Sore itu juga ia pindah ke ruangan lain yang menurutnya lebih nyaman. Lain lagi dengan seorang oma yang berbaring persis di sebelah tempat tidur saya. Belum terlampau tua, namun saya menyebutnya oma karena ia sudah memiliki banyak cucu. Dari kisahnya, oma ini juga menikmati berbagai fasilitas mewah ketika masih muda, karena suaminya memiliki jabatan penting. Anak-anaknya pun hampir semuanya berhasil, bahkan ia sudah sering mengunjungi negara-negara lain bukan hanya di Asia, tetapi juga Eropa. Namun saya melihat bahwa oma yang satu ini tidak pernah mengeluh, ia bersukacita dan menerima kenyataan yang harus ia alami tanpa banyak menuntut kepada siapa pun termasuk anak-anaknya.

Mereka adalah dua orang oma dengan sifat yang sangat bertolak belakang. Oma yang pertama ketika masih usia produktif adalah seorang wanita yang mempunyai jabatan di salah satu bank swasta. Sebagai orang yang mempunyai kedudukan penting, tentulah ia sudah terbiasa dengan kehidupan yang enak, biasa dihormati dan dilayani. Mungkin itulah yang menyebabkan ia kurang bisa menerima keadaan yang tidak sesuai dengan standarnya. Ia hampir selalu protes dalam banyak hal: pelayanan rumah sakit, ruangan, makanan, bahkan terhadap anak-anaknya pun ia protes. Tetapi oma yang di sebelah saya sekalipun ia juga dulunya pernah berjaya dan berkecukupan di masa tuanya, namun ia terlihat lebih bersyukur dan tidak banyak menuntut. Wajahnya selalu nampak ceria tanpa sungut-sungut.

Adalah bijak jika kita selalu mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai macam perubahan dalam hidup ini. Firman Tuhan berkata bahwa tidak ada yang kekal di dunia. Mungkin saja hari ini usaha kita lancar, besok mengalami hambatan. Hari ini kita dapat menikmati uang yang cukup dan berbagai fasilitas, besok kehilangan semuanya. Hari ini kita memerintah, besok diperintah. Atau sebaliknya, hari ini diperintah, besok memerintah.

Banyak perubahan yang bisa terjadi tanpa kita bisa memprediksinya. Karena itu, kita patut bersyukur ketika menerima anugerah yang Tuhan berikan berupa keadaan yang menyenangkan. Namun, kita juga harus tetap bersyukur ketika Tuhan mengizinkan sebuah perubahan yang tidak kita harapkan terjadi. Sebagai orang percaya, kita perlu belajar untuk mengucap syukur dalam segala hal, termasuk ketika kita dalam kesulitan.

Suka dan duka akan datang silih berganti, tetapi sekalipun bumi berubah dan gunung bergoncang ke dalam laut, Tuhan tetaplah perlindungan kita, maka bersyukurlah!

Manna Sorgawi, 23 Desember 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s