Play Your Own Game

Yakobus 3:4; 1 Timotius 6:12; 1 Korintus 3:13

Kakek saya sangat suka bermain catur. Setiap waktu senggangnya digunakan untuk bermain catur. Permainan di atas papan hitam putih  ini memang akan membuat kita ingin terus bermain karena menantang, penuh strategi, dan selalu mengasah otak dengan pola pikir yang taktis. Perjuangan hidup kita pun dapat diibaratkan permainan catur.

Jika kita cukup “smart” dalam memainkannya, maka kita bisa menang. Kepintaran untuk melawan Iblis diperoleh dari pengetahuan firman Tuhan. Ketika Yesus dicobai, Ia menaklukkannya dengan perkataan firman. Hal itu terbukti dari pernyataan yang beberapa kali diucapkanNya, “ada tertulis”. Berbeda dengan situasi ketika Iblis mencobai Hawa. Begitu cerdiknya Iblis memutarbalikkan firman Tuhan, sehingga Hawa pun dapat diperdaya olehnya. Jika kita tidak mempunyai pengetahuan yang benar akan kebenaran firman Tuhan, maka Iblis dengan mudahnya memperdaya kita. Untuk itulah, diperlukan kerajinan dan ketekunan untuk mengasah kecerdasan spiritual kita. Saat kita terus melatih otak untuk mencari kebenaran, maka kita pun akan bertindak sesuai kebenaran.

Jika kita terlalu cuek memainkannya, besar kemungkinan kita kalah. Sikap terlalu cuek, masa bodo, tidak peduli, malas berpikir dan berusaha dalam hidup, semua sikap mental tersebut jika terus-menerus dipelihara, membawa pada kondisi kemunduran. Untuk itulah kita harus memaksimalkan semua yang kita miliki dan berusaha melawan kerasnya hidup ini.

Jika kita membiarkan orang lain mendikte kita dalam bermain, maka kita telah membiarkan orang lain mengontrol kita. Jika memang yang terjadi demikian, kita tidak akan mendapatkan poin dan akan kalah dalam hidup ini. Ketika kita mulai menggantungkan hidup kepada orang lain tanpa sedikit pun kontrol yang kita pegang, maka bukan lagi kita yang menentukan masa depan diri sendiri, melainkan orang lain. Hal ini bukan berarti kita harus bekerja seorang diri dan tidak memedulikan komunitas sekitar. Tetapi proses kerja sama dan belajar dari orang lain tetap berjalan sejauh kita juga memegang kendali hidup diri sendiri. Itulah yang dinamakan kita bertanggung jawab atas diri kita sendiri.

Kita yang berperan besar menjalankan pertandingan hidup kita sendiri. Pertanggungjawaban itu bukan sekedar tuntutan, melainkan sebagai bentuk kasih kepada Tuhan. Jika ingin meletakkan kekuatan besar dalam pertandingan kehidupan kita, maka kita harus mengetahui siapa yang bertanggung jawab sepenuhnya dalam hidup kita, itu adalah diri kita sendiri. Hidup ini layaknya sebuah pertandingan yang harus dimenangkan, maka seharusnyalah setiap kita bertanggung jawab penuh dalam proses perjalanan hidup masing-masing kita. Kita yang menentukan seberapa jauh kita melangkah maju, lewat kerja keras, komitmen, dan sikap mental positif yang disertai dengan kuasa Tuhan yang akan memampukan kita untuk menjalani hidup ini. Suatu waktu kelak Tuhan akan menguji setiap perbuatan kita.

Manna Sorgawi, 30 Desember 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s