Rekan Yang Setia

Kisah Para Rasul 15:40; 16:19-34

Setelah berpisah dengan Barnabas, Paulus membawa serta Silas dalam perjalanan penginjilannya. Paulus memilih Silas bukan untuk menggantikan Markus, tetapi untuk menggantikan Barnabas. Bisa dikatakan bahwa Markus adalah anak buah, sedangkan Barnabas adalah rekan. Dengan kata lain, Paulus memilih Silas sebagai rekannya yang baru. Di kemudian hari, dengan meminjam bahasa kita, Paulus bisa berkata, “Tidak salah saya memilih Silas sebagai rekan saya.”  Pasalnya, terbukti bahwa Silas adalah rekan yang setia. Tiga hal berikut adalah bukti kesetiaan Silas sebagai rekan:

Silas rela menderita bersama Paulus. Di Filipi, Silas rela dikoyakkan pakaiannya dan didera untuk menemani Paulus yang menderita dengan cara yang sama. Dera adalah sebuah hukuman yang dilakukan dengan cara memukul terhukum dengan rotan. Penderitaan itu pun berlanjut. Silas kembali menemani Paulus di penjara. Tentu tempat ini sangat menyesakkan, sebab ini ruang penjara yang paling tengah. Ditambah lagi kakinya dibelenggu di dalam pasungan yang kuat. Bisa dikatakan ini penderitaan lahir batin. Bisa saja Silas berkata, “Ini gara-gara Paulus.” Lalu, ia bisa memutuskan untuk meninggalkan Paulus. Tetapi tidak, Silas rela menemani Paulus dalam penderitaan. Dia tahu apa artinya tulisan di Amsal, “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.”

Silas setia di dalam persekutuan dengan Tuhan bersama Paulus. Alkitab mencatat bahwa kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Tuhan. Paulus tidak sendiri dalam pergumulan berat yang disampaikannya kepada Tuhan. Kesepakatan yang dibuat oleh Silas ini menjadikan doa sangat efektif (Mat 18:19). Terbukti bahwa gempa bumi terjadi secara mendadak yang menyebabkan sendi-sendi penjara goyah, sehingga semua pintu terbuka dan belenggu mereka terlepas.

Silas mendukung Paulus dalam meneguhkan jemaat-jemaat. Meneguhkan jemaat saat itu merupakan pelayanan yang sangat penting. Munculnya bidat-bidat, adanya tekanan dari orang-orang Yahudi dan pemerintahan Romawi, bisa membuat kendor semangat kekristenan jemaat. Silas memahami situasi ini. Maka, ketika Paulus meneguhkan jemaat, Silas tidak menghalang-halanginya. Silas terlihat kompak dalam hal ini. Silas setia mendukung Paulus dalam menjalankan tugas panggilan tersebut.

Indahnya jalinan kerja sama Silas dengan Paulus seharusnya juga terjadi antara kita dan rekan kita. Jangan menunggu orang lain menjadi  “silas-silas” zaman sekarang, tetapi kita sendiri yang harus menjadi “silasnya”. Jauhi keinginan untuk mementingkan diri sendiri. Duduk dan berjalanlah dengan rekan kita saat dia menderita. Bernyanyilah bersamanya saat dia bergembira. Usahakan supaya kita sepakat, sejalan dalam pekerjaan yang kita lakukan bersama. Rendah hati dan penuh kerelaan, itulah kuncinya.

Manna Sorgawi, 4 Januari 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s