Pemberita Injil

2 Korintus 1:19; 2 Timotius 4:2

Di sebuah seminar, seorang peserta dengan nada protes, “Kalau seseorang tidak mempunyai karunia penginjilan, bagaimana dia bisa menginjil?” Pembicara menjawab dengan lembut, “Dalam hal ini, memberitakan Injil jangan dikaitkan dengan karunia. Memberitakan Injil adalah tanggung jawab kita sebagai orang percaya.”

Alkitab tidak menyebutkan apakah Silas punya karunia penginjilan atau tidak. Juga, tidak disebutkan apakah dia mempunyai jabatan sebagai rasul atau tidak. Tetapi, dia memberitakan Injil. Menariknya, yang memberikan kesaksian tentang hal ini adalah Paulus sendiri. “Karena Yesus Kristus, Anak Allah, yang telah kami beritakan di tengah-tengah kamu, yaitu olehku dan oleh Silwanus dan Timotius, bukanlah ‘ya’ dan ‘tidak’, tetapi sebaliknya di dalam Dia hanya ada ‘ya’.” Kepala penjara bukan orang pertama yang mendengar Injil dari Silas dan Paulus. Sebelumnya mereka sudah memberitakan Injil kepada orang lain. Sebut saja salah satunya adalah Lidia. Lidia, penjual kain ungu, adalah orang yang namanya disebut pertama kali saat Silas dan Paulus kompak dalam pemberitaan Injil. Namun, kejadian dahsyat yang mengawali pertobatan kepala penjara membuat kisah seputar dirinya ditulis dengan lebih rinci. Menariknya, penulis sering menyebut kata “mereka” dalam kaitannya dengan pemberitaan Injil. Ini menegaskan bahwa Silas tidak hanya ikut-ikutan, tetapi dia terlibat aktif di dalam penginjilan. Adakalanya orang-orang di satu tempat menerima Silas dan Paulus, serta menerima Injil yang mereka beritakan. Sebagai contohnya adalah orang-orang Yahudi di Berea. Tetapi, ada juga orang-orang di tempat lain yang menolak, bahkan hendak menganiaya mereka. Seperti, orang-orang Yahudi di Tesalonika dan orang-orang di Filipi. Namun, tidak ada catatan yang menyebutkan bahwa Silas mengundurkan diri dari tanggung jawab tersebut. Ini artinya, sampai waktu yang tidak disebutkan, Silas tetap menjadi seorang pemberita Injil.

Injil yang diberikan oleh Silas juga sangat jelas, yaitu Yesus Kristus, Anak Allah. Bisa saja dia menambahi dengan penjelasan-penjelasan seperlunya, tetapi inti beritanya tidak kabur. Ini yang membuat orang-orang yang menerimanya tidak ragu-ragu lagi. Bahkan Lidia dan kepala penjara, saking yakinnya, mau dibaptis bersama-sama seisi rumahnya.

Tugas pemberitaan Injil ada di pundak setiap orang percaya. Untuk memberitakan Injil, kita tidak perlu menunggu menjadi seorang teolog. Juga, tidak perlu menunggu dipercayakan jabatan majelis. Kita harus mulai dari posisi kita sekarang. Sampaikan secara sederhana dan lugas pengalaman kita setelah menerima Yesus Kristus. Sangat mungkin akan ada tantangan dalam pemberitaan Injil, tetapi itu bukan berarti kita harus mundur. Cari kesempatan yang lain dan pakailah hikmat Tuhan. Tujuan kita bukanlah untuk memaksa orang  menerima, tetapi supaya berita keselamatan di dalam Yesus sampai ke telinga semua orang.

Manna Sorgawi, 6 Januari 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s