Batu Menjadi Mutiara

Yesaya 60:17

Dongeng anak-anak tentang “Si Katak dan Pangeran yang Tampan” mengisahkan tentang seorang pangeran yang melakukan kesalahan, sehingga ia harus menerima kutuk. Kutuk tersebut akan berkahir, jika ia berjumpa dengan seorang putri yang dapat mencintainya, maka ia pun akan berubah kembali menjadi pangeran yang tampan. Demikian pula dengan kisah seekor angsa yang buruk rupa menjelma menjadi putri yang cantik. Dan juga kisa “Beauty and the Beast”.

Dongeng anak-anak ini menanamkan sebuah kebenaran bahwa kutuk akan menjadikan diri kita menjadi “si buruk rupa”. Hanya kasih sejati yang dapat membebaskan kita dari segala kutuk yang menjadi pangkal penyebab dari gersang dan tandusnya kehidupan kita. Kasih setia Tuhan yang besar, sanggup untuk membawa kita dari kutuk kepada berkat, dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib, dari Neraka kepada Sorga, dari kematian kepada kehidupan, dari dunia kepada salib Kristus. Yang kita perlukan hanyalah memercayakan dan memberikan seluruh hidup kita ke dalam tangan kasih Tuhan, maka akan ada satu daya yang bekerja untuk mengubahkan hidup kita. Mengubahkan hidup kita yang sia-sia dan tak berarti menjadi indah, mulia, dan berharga, sehingga kehidupan kita dapat diumpamakan sebagai sebuah batu tak bernilai menjadi mutiara tak ternilai di tangan Tuhan.

Mungkin saat ini kita sedang berada dalam keadaan hidup yang berantakan, yang bergelimang dengan dosa, yang lumpuh di hadapan Tuhan. Percayalah, kasih setia Tuhan sanggup untuk mengubahkan kehidupan kita menjadi mutiara dan harta kesayanganNya. Tuhan hanya meminta kita membuka hati bagi kasihNya dan membawa jalan kehidupan kita berpijak pada jejak-jejak kaki Tuhan. Seperti yang dinyatakan Daud dalam Mzm 85:14, “Membuat jejak kakiNya menjadi jalan kita.” Artinya, Tuhanlah yang berjalan di depan kita., menjadi Pemimpin sejati dalam kehidupan kita. Banyak kali kita berjalan mendahului Tuhan, kita meninggalkan Tuhan jauh di belakang garis kehidupan kita. Itu sebabnya betapa kacaunya kehidupan kita. Buatlah Tuhan menjadi Pemandu jalan kita. Berjalanlah setapak demi setapak bersama dengan Tuhan. Sehingga ketika kita terlah berjalan cukup jauh meninggalkan garis “start”, kita akan menyadari betapa indah dan mulianya berjalan beriring dengan Dia. Kita pun akan berujar bersama-sama dengan Paulus, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.” (Flp 3:7-8).

Pilihan ada di tangan kita. Menolak dan mengabaikan kasih Tuhan yang ditawarkan pada kita, atau menerima dan hidup di dalam kasihNya. Mari kita membuat keputusan sekarang apakah tetap mau menjadi katak atau berubah menjadi pangeran yang tampan?

Manna Sorgawi, 13 Januari 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s