Sedia Payung Sebelum Hujan

Mazmur 119:105

Faduma Sakow Abdullah adalah seorang janda dengan lima orang anak. Ia mencoba melepaskan diri dari bencana kelaparan di Somalia dengan melakukan perjalanan ke Camp Perlindungan di Kenya, yang memakan waktu perjalanan 36 hari. Dia harus menempuh perjalanan yang sangat berbahaya, melewati wilayah yang gersang dan kering, hanya untuk bertahan hidup dikarenakan tidak adanya hujan yang turun selama bertahun-tahun di Somalia. Hanya tinggal satu hari perjalanan sebelum mereka mencapai Camp Perlindungan, anaknya yang berusia 4 dan 5 tahun meninggal dikarenakan dehidrasi dan kelaparan. Dia harus meninggalkan jasad anaknya di bawah pohon dengan tidak dikubur, sehingga dia dapat melanjutkan perjalanannya demi 3 orang anaknya yang lain. Dia melihat ada lebih dari 20 anak meninggal dan pingsan, yang ditinggalkan begitu saja di pinggir jalan. “Tidak pernah terpikirkan oleh saya bahwa saya hidup hanya untuk melihat hal yang mengerikan seperti ini.” Dia berujar dengan air mata yang mengalir. Demikian juga Antonio Guterres, kepala Agency Camp Perlindungan berkata, “Saya tidak pernah melihat orang-orang yang hidup dalam situasi yang begitu tanpa harapan.”

Kita sering menggerutu di hadapan Tuhan, bahwa hidup yang kita jalani terasa berat dan tiada harapan. Kita bergelut dengan persoalan seputar rumah tangga, pergaulan, anak-anak yang membangkang, perasaan yang pedih dan penuh kekecewaan. Namun, hidup yang kita jalani tidaklah seberapa bila dibandingkan dengan kepedihan Faduma, yang menyaksikan anak-anaknya mati kelaparan dan harus meninggalkannya di bawah pohon karena berpacu dengan waktu demi keselamatan anak-anaknya yang lain. Situasi kehidupan yang keras membawanya pada garis perbatasan antara perjuangan hidup dan ambang kematian. Situasi yang membuatnya harus mampu menghapus air matanya yang jatuh di bawah pohon demi meraih secercah senyum pengharapan di Camp Perlindungan.

Di balik penderitaan kita, masih banyak orang-orang yang jauh mengalami kepedihan hidup yang  tiada tara. Jadi, mengapa kita: membiarkan diri menjadi bungkuk atas beban penderitaan kita; tidak dapat melihat penderitaan sebagai harta rohani yang terpendam; tidak memiliki sikap hati yang benar dalam menanggapi persoalan, melainkan terperangkap dalam sikap mengasihani diri dan menyalahkan Tuhan? Scoot Hamilton berkata, “The only disability in life is bad attitude.” Atau, satu-satunya kelumpuhan dalam hidup adalah sebuah sikap hidup yang salah. Dan satu-satunya yang dapat membangun sikap hidup yang benar, hanyalah firman Tuhan. Kala hidup tertancap kuat dalam firmanNya, maka Penjaga yang tak pernah terlelap tidak akan membiarkan kita goyah. Janganlah badai menjadi hal yang akan menyadarkan kita betapa pentingnya firman Tuhan. Tapi jadikanlah firmanNya sebagai payung kehidupan ketika kita melewati derasnya hujan air mata.

Manna Sorgawi, 15 Januari 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s