Kasih Tak Pernah Salah

Lukas 6:27-35; 10:30-37

Belas kasihan atau kasih tidak berkembang secara otomatis di dalam diri seseorang. Kasih yang tulus seperti yang dimiliki oleh seorang Samaria yang murah hati terhadap orang yang tidak dikenalnya, harus dibangkitkan tatkala Tuhan memperhadapkan kita dengan mereka yang membutuhkan kasihNya. Artinya, belas kasihan akan terus bertambah di dalam diri kita saat kita bermurah hati kepada sesama manusia, meskipun itu musuh atau orang yang membenci kita.

Tanggal 3 Juli 1988, kapten kapal penjelajah Amerika Serikat Vincennes melakukan kesalahan yang besar karena ia meluncurkan rudal untuk menjatuhkan sebuah pesawat milik maskapai penerbangan Iran. Insiden itu menewaskan 290 orang penumpang. Peristiwa itu menimbulkan berbagai macam pendapat. Ada orang-orang yang menyesalkan kejadian itu, tetapi ada juga yang merasa senang karena mereka ingat pada perlakuan kejam yang dialami oleh sandera-sandera Amerika yang ditawan oleh Iran di waktu lampau. Di tengah-tengah ramainya perdebatan itu, Presiden Reagen memutuskan suatu tindakan yang mengejutkan semua orang. Presiden negara adikuasa itu memutuskan untuk membayar kompenisasi kepada keluarga-keluarga korban. Para wartawan mencoba untuk menentang keputusan itu dengan mengatakan bahwa keputusan itu akan memberi pesan yang salah di mata internasional. Presiden Reagen menjawab kecaman itu dengan kalimat bijak seorang pemimpin, “Saya tidak pernah menganggap belas kasihan sebagai suatu teladan yang buruk.”

Banyak orang yang membiarkan belas kasihan di hatinya hampir pupus karena pertimbangan yang dianggapnya logis, tetapi salah menurut hukum kasih. Kebanyakan mereka yang hidup di kota besar mengalami krisis kasih. Sebenarnya belas kasihan tidak terletak pada logis atau tidaknya, atau pantas atau tidak pantasnya seseorang ditolong atau diampuni. Misalnya, beberapa orang yang menganggap memberi sumbangan kepada para pengemis di jalanan adalah tindakan pembodohan, mereka menganggap semua pengemis itu sama saja, malas bekerja dan tidak perlu ditolong. Tetapi tidak demikian dengan orang-orang yang memiliki belas kasihan, dengan berbagai cara mereka akan menyatakan kasih serta kepedulian mereka kepada siapa saja yang membutuhkan uluran yangan mereka.

Bagaimana pula jika suatu saat orang yang sudah menyakiti atau memusuhi kita memerlukan pertolongan kita, walaupun mereka sendiri tidak meminta kita untuk menolong mereka? Apakah kita proaktif untuk menabur kasih dalam hidup mereka? Jika kita memang murid Kristus maka kita tidak akan memandang orang itu sebagai musuh yang harus disumpahserapahi, sebaliknya kita akan mengulurkan tangan untuk menolongnya karena bagi kita dia adalah objek kasih. Jika kita memutuskan untuk berbuat demikian, maka kita telah menjadi anak-anak Bapa di Sorga.

Manna Sorgawi, 18 Januari 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s