Berharap Sampai Akhir

Roma 4:18-22

Malam hampir larut ketika Caroline menerima telepon dari Paul, kakaknya yang sulung. “Carol, aku baru saja mengundang Yesus untuk masuk dan menjadi Raja atas hidupku! Aku sudah diselamatkan Carol, dan pendeta yang membimbingku menyuruhku untuk memberitahukan seseorang yang selama ini telah berdoa untuk keselamatanku. Karena itu aku meneleponmu malam ini.” Caroline terdiam, ia tak dapat berkomentar sementara pikirannya kembali mengingat perbuatan dan kata-kata Paul di makan ibunya. Paul begitu marah, bahkan memakinya ketika ia memberitahukan pesan terakhir ibunya agar Paul segera bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Caroline juga ingat pada keberingasan Paul ketika ia melarang saudaranya itu untuk menikah lagi. Dalam hati Caroline berkata, “Mungkinkah pendosa dan pemberontak seperti Paul bertobat? Ini benar-benar mujizat!” Ketika kita bergumul untuk keselamatan orang-orang yang kita kasihi, benarkah kita memiliki iman bahwa Tuhan pasti menyelamatkan mereka atau kita hanya sekadar berdoa? Mengapa kita terkejut ketika menerima pernyataan bahwa mereka yang kita doakan dilawatNya?

Iman adalah sesuatu yang harus dimiliki ketika kita meminta Tuhan bertindak menyelamatkan orang-orang yang kita kasihi! Kita harus benar-benar yakin bahwa Dia akan menjawab doa-doa kita. Jika kita tidak ada keyakinan maka kita tidak memiliki motivasi yang cukup kuat untuk berdoa dengan ketekunan seperti yang sesuai dengan standarNya. Ketekunan yang bagaimana yang sesuai dengan standar Tuhan? Seperti perumpamaan yang diajarkan Tuhan Yesus di dalam Luk 18:1-8.

Jangan berhenti berdoa sampai kita melihat jawaban doa! Tuhan Yesus sendiri yang berjanji bahwa orang yang meminta kepadaNya dengan iman, akan mendapatkan kebutuhan yang mereka minta (Mat 7:7). Meskipun sudah berdoa bertahun-tahun atau belasan tahun, dan sepertinya kita tidak juga menerima jawaban doa itu, tetapi kita tidak boleh berhenti berdoa. Mengapa? Karena Tuhan masih menguji sebesar apa iman dan ketekunan kita untuk percaya kepadaNya. Meskipun tidak ada dasar untuk berharap, belajarlah untuk tetap berharap kepada Tuhan sebagaimana Abraham berharap kepada Bapa yang setiaNya tetap. Di dalam masa-masa yang sukar untuk berharap, Abraham menguatkan hatinya untuk memercayai janji Tuhan yang akan memberikannya seorang keturunan dari rahim Sara yang sudah tidak menghasilkan sel telur. Pengharapan membantunya bertekun dalam doa dan penantian.

Apa yang membuat kita gagal memercayai kesetiaan Tuhan dalam menjawab doa kita? Mungkin karena kita tidak menguatkan hati untuk mengambil satu langkah terakhir, langkah yang menentukan kita untuk meraih kemenangan. Jika Tuhan membuktikan kesetiaanNya kepada Abraham maka Dia juga akan membuktikan kesetiaanNya kepada kita. Percayalah!

Manna Sorgawi, 19 Januari 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s