Hanya Seorang Hamba (Seminggu Bersama Hagar – Hari 1)

Kejadian 16:1; Matius 10:24; Kolose 3:22-23

Alkitab menulis bahwa Hagar adalah hamba perempuan Sarai. Dia adalah orang Mesir. Sekalipun kebangsaan dan namanya jelas, tetapi Hagar tetap merupakan perempuan misterius, sebab nama orang tua atau nama desa kelahirannya tidak disebutkan. Apalagi, kisahnya cukup singkat dan berakhir begitu saja tanpa ada kejelasan tentang ciri-ciri khusus pribadinya. Itulah sebabnya para ahli memberikan tafsiran mereka masing-masing tentang Hagar. Ada yang menafsirkan bahwa Hagar adalah seorang putri Firaun. Penafsir berpendapat bahwa Firaun sendiri yang memberikan Hagar kepada Sarai. Dasar pemikirannya adalah bahwa Firaun melihat Sarai sebagai orang yang istimewa, yaitu selain cantik, Sarai juga menjadi orang yang dijagai Tuhan. Ini berdasarkan pengalamannya ketika dia hendak mengambil Sarai menjadi istrinya. Tuhan menimpakan tulah yang hebat kepadanya untuk menghentikan niat hatinya, karena Sarai sudah menjadi istri Abram. Dengan bahasa kita, mungkin Firaun berpikir, “Lebih baik anakku tinggal bersama Sarai, pasti akan merasakan dampak keistimewaannya.” Ada yang menafsirkan bahwa Hagar adalah hamba perempuan Firaun. Ini berdasarkan apa yang dijelaskan di Kej 12:16, di mana saat itu Firaun menyambut Abram dan memberikan kepadanya binatang ternak dan hamba laki-laki dan perempuan. Ada juga yang menafsirkan bahwa Hagar adalah Ketura. Ketura adalah seorang perempuan yang diambil oleh Abram menjadi istrinya setelah kematian Sarai. Ishaklah yang mengajak Hagar atau Ketura kembali, yaitu pada saat dia singgah ke sumur Lahai-Roi. Siapa pun dia, yang jelas Alkitab berkata bahwa Hagar adalah seorang hamba.

Seorang hamba perempuan (Ibr, shiphchah) adalah seorang perempuan yang menjadi milik orang lain untuk melayani. Sebagai seorang hamba, tentu saja Hagar mempunyai status sosial yang sangat rendah. Kalau benar dia tadinya hamba Firaun, maka gengsinya menjadi semakin turun ketika menjadi hamba Sarai. Dunia saat itu mengenal Firaun sebagai orang hebat, tetapi banyak orang tidak mengenal Sarai. Apalagi jika benar bahwa dia seorang putri Firaun, penurunannya sangat drastis. Di sisi lain, Mesir adalah negeri yang secara sosial dan politik sudah maju. Mesir memiliki sistem perekonomian yang tertata dengan baik. Sementara itu, Kanaan, negeri di mana Hagar mengikut Sarai bisa dikatakan masih primitif. Secara jasmani, kehidupan Hagar semakin tidak menguntungkan. Tetapi, itulah hamba, seorang yang tidak memiliki hak atas hidupnya sendiri. Yang harus ditunjukkannya adalah setia dan rajin.

Bersyukurlah kalau kita bukan seorang hamba. Sekalipun demikian, kita harus tetap setia dan rajin, baik di tempat kerja, di rumah, di masyarakat, atau di gereja. Pasalnya, kita punya atasan, yang berarti kita adalah bawahan. Ingat bahwa Tuhan menghargai, bahkan akan memberikan upah atas kesetiaan dan kerajinan kita.

Manna Sorgawi, 1 November 2012

 

“Saya telah mempelajari kehidupan pria-pria besar dan wanita-wanita terkenal, dan saya menemukan bahwa mereka yang mencapai puncak keberhasilan adalah mereka yang melakukan pekerjaan-pekerjaan yang ada di hadapan mereka dengan segenap tenaga, semangat, dan kerja keras.” – Harry S. Truman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s