Hamba Yang Beruntung (Seminggu Bersama Hagar – Hari 2)

Kejadian 16:2-3

Sejenak kita bayangkan: Tiba-tiba Sarai memanggil Hagar dan berkata, “Hagar; hambaku, kamu akan kuberikan kepada suamiku, Abram, tetapi bukan untuk menjadi hambanya, melainkan untuk menjadi istrinya.” Mungkin saja Hagar akan tertegun dan diam tanpa kata. Alkitab menulis bahwa Sarai hanya mendiskusikan perkara ini terlebih dahulu dengan Abram, tidak dengan Hagar. Bagi Hagar, kata-kata Sarai tersebut sangat mengejutkan. Menarik untuk diperhatikan dua hal berikut ini berkaitan dengan kesediaan Hagar menjadi istri Abram:

Hagar bersedia menjadi istri Abram karena memang dia tidak bisa menolak. Hagar adalah hamba perempuan Sarai. Seorang hamba berarti seorang yang tidak mempunyai hak atas hidupnya. Hagar adalah milik Sarai sepenuhnya. Menariknya, bukan hanya orangnya yang menjadi milik Sarai, tetapi juga apa yang bisa dihasilkan dari dia, termasuk anaknya. Ini sudah menjadi kebiasaan orang-orang di dunia TImur Dekat kuno. Maka, kalaupun nanti Hagar memiliki anak dari Abram, maka anak itu adalah hak Sarai sepenuhnya. Di waktu-waktu kemudian, cara seperti ini juga ditiru oleh Rahel. Dia memberikan Bilha, budak perempuannya, untuk menjadi istri Yakub, karena waktu itu dia mandul. Demikian juga dengan yang dilakukan Lea, kakak Rahel yatu dengan memberikan Zilpa, budak perempuannya, untuk menjadi istri Yakub. Baik Bilha maupun Zilpa pun tidak kuasa untuk menolak kemauan majikannya.

Hagar bersedia menjadi istri Abram karena terselip sebuah harapan indah bagi hidupnya. Bagi Hagar yang adalah seorang hamba, menjadi istri Abram adalah suatu kesempatan untuk mengubah jalan hidupnya sekalipun menjadi istri kedua. Ini mungkin merupakan kesempatan satu-satunya untuk dia menerima kehormatan selama hidupnya. Apalagi kalau dia nantinya mengandung anak Abram, pasti itu akan menaikkan status sosialnya secara drastis. Menjadi seorang selir adalah langkah maju di dalam hidupnya. Akhirnya, dia akan menjadi ibu dari sebuah suku bangsa terhormat dan ini merupakan kebanggaan tersendiri. Berdasarkan harapan ini, maka dengan mudah Hagar menikmati status barunya, yaitu menjadi istri Abram. Dalam Midrash, yaitu kajian doktrinal tentang teks Ibrani Perjanjian Lama, dijelaskan bahwa Abram semakin dekat dengan Hagar dan berhenti melihat dirinya sebagai seorang hamba. Tentu saja ini menjadi semakin meyakinkan Hagar bahwa hidupnya akan berubah menjadi indah adanya.

Sering kali kita menjadi putus asa ketika mengalami keadaan yang tidak menyenangkan, apalagi kalau kita harus mengerjakan sesuatu yang bukan keinginan kita. Ada baiknya kita tenang, menerima kenyataan yang ada, dan melihat harapan apa yang bisa kita raih di ujung penderitaan itu. Dengan dasar harapan itu, jalanilah hidup dengan rela.

Manna Sorgawi, 2 November 2012

 

“Kesempatan terbesarmu mungkin saja sekarang ini tepat sedang berada di tempatmu.” – Napoleon Hill

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s