Hamba Yang Lupa Diri (Seminggu Bersama Hagar – Hari 3)

Kejadian 16:4-6a; Amsal 30:21-23

Orang yang naik pangkat atau jabatan atau menjadi kaya lalu sombong, bukan hanya ada di sinetron. Cukup mudah kita menemukan orang-orang seperti itu di sekitar kita. Ini menunjukkan bahwa orang-orang tersebut lupa diri karena memang secara mental dia belum siap.

Berbicara mengenai seseorang yang lupa diri ketika menerima sesuatu yang lebih baik, Hagar adalah salah satunya. Sebagaimana kita ketahui bahwa Hagar telah menjadi istri Abram. Posisi baru ini sudah cukup baik baginya. Tetapi, kesempatan untuk menjadi lebih dari itu masih ada, yaitu jika dia melahirkan anak Abram. Dengan melahirkan anak Abram, maka secara psikologis, posisi Hagar menjadi lebih kuat dibandingkan Sarai. Betapa membanggakannya! Orang akan menempatkannya sebagai wanita terhormat. Hagar berada di ambang batas pencapaian ini, karena dia mengandung benih Abram. Sayang, ternyata Hagar belum siap mental, sehingga dia menjadi lupa diri. Hal ini tergambar dari perubahan sikapnya terhadap Sarai. Hagar memandang rendah akan nyonyanya. Mungkin dia berpikir bahwa sekarang dia berada di “atas”, melebihi Sarai. Mungkin juga dia berpikir bahwa dia lebih diperkenan Tuhan karena diberi kesempatan untuk mengandung, sedang Sarai tidak. Di tempat yang berbeda, di zaman yang berbeda, sikap yang sepadan ditunjukkan oleh Penina. Penina selalu menyakiti hati Hana. Dasarnya sama, karena Tuhan menutup kandungan Hana. Penina lupa bahwa baik dia maupun Hana tetap sama-sama istri Elkana, tidak ada yang lebih.

Hagar lupa diri! Dia lupa bahwa Sarai yang memberikan kesempatan kepadanya untuk menjadi istri Abram. Dia lupa bahwa sekalipun sekarang dia menjadi istri Abram, tetapi dia tetap hamba Sarai. Abram sendiri masih mengakui status itu, seperti yang dia katakan, “Hambamu itu di bawah kekuasaanmu; perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik.” Maka, tindakan Hagar yang merendahkan Sarai itu adalah tindakan yang sangat kurang ajar. Penulis Amsal menyebutkan tindakan seperti yang dilakukan Hagar ini akan membuat bumi bergetar. Bumi bergetar melambangkan gejolak sosial yang mengikuti perubahan sesuatu yang terjadi secara mendadak. Dalam hukum sosial, seorang hamba tidak akan bersikap seperti Hagar, dan saat itu Hagar telah mengubah hukum sosial itu. Semua ini terjadi karena Hagar belum siap mental untuk menerima kedudukan barunya.

Dari kisah tersebut kita menjadi tahu mengapa sering kali Tuhan tidak mengizinkan kita menerima kedudukan, jabatan, harta, atau sesuatu yang menguntungkan lainnya dengan cepat. Karena, Tuhan tahu kita belum siap dan bisa lupa diri. Bersyukurlah kalau kita harus melalui proses yang panjang, karena dengan demikian kita akan lebih siap menerimanya. Kalau kita belum siap dan menjadi lupa diri, makan kita akan menjadi batu sandungan bagi sesama. Sebaliknya, kalau kita siap, maka kita bisa menjadi berkat bagi sesama.

Manna Sorgawi, 3 November 2012

 

“Usahakanlah supaya Anda tidak menegakkan kepala Anda lebih tinggi daripada topi Anda.” – John Lyly

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s