Hamba Yang Rela Kembali Tunduk (Seminggu Bersama Hagar – Hari 4)

Kejadian 16:6b-12

Bagian ini diawali dengan sepotong kalimat, “Lalu Sarai menindas Hagar.” Sangat menyedihkan! Alkitab tidak mencatat ada kejadian serupa yang terjadi sebelum ini. Sangat mungkin memang tidak pernah terjadi sebelumnya. Realitanya Hagar tidak lari dari Sarai sebelum peristiwa ini, tetapi di sini dia lari meninggalkan Sarai. Tentu penindasan yang dia alami sangat berat, sehingga dia tidak kuat menahannya. Tetapi, semua itu bermula dari kesalahannya sendiri. Andai saja Hagar tidak merendahkan Sarai, sangat mungkin tidak akan terjadi penindasan seperti itu.

Melarikan diri adalah cara yang paling tepat untuk terbebas dari penindasan. Itulah pikiran Hagar. Hagar melarikan diri ke arah barat daya. Mungkin dia akan kembali ke keluarganya. Ini adalah pelarian yang cukup berani. Dia mengikuti jalan ke Syur, yang merupakan salah satu rute perdagangan. Sendirian dan tanpa bantuan siapa pun. Ini adalah sebuah perjuangan yang berat, Padang gurun adalah tempat yang menakutkan, gersang dan menyiksa, serta secara mendadak bisa muncul badai yang mematikan. Terlebih lagi saat itu dia sedang mengandung. Meskipun demikian, Hagar hampir berhasil sampai ke Mesir. Sampai akhirnya dia kelelahan dan berhenti di sebuah mata air di padang gurun Syur. D sinilah dia dijumpai oleh Malaikat Tuhan. Menarik untuk memerhatikan pendapat Malaikat Tuhan tentang masalah pelarian Hagar, “Lalu kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: ‘Kembalilah kepada nyonyamu, biarkanlah engkau ditindas di bawah kekuasaannya.” Bak luka yang disiram air, demikian ketika Hagar mendengar perkataan Malaikat Tuhan itu. Tentu ini sangat tidak mudah. Bukankag semua orang, termasuk Hagar sangat merindukan kebebasan? Namun, ketika kebebasan itu sudah didapatkan, justru Malaikat Tuhan menyuruh supaya Hagar kembali harus menundukkan diri di bawah penindasan Sarai. Apakah dia protes? Mungkin saja, tetapi Alkitab tidak mencatatnya. Dengan kembali kepada Sarai, itu artinya Hagar harus siap minta maaf atas kesalahannya. Dia juga harus melatih kembali kesabaran, ketekunan, dan kegigihannya di dalam berjuang. Semua itu akan menjadikannya semakin kuat, baik secara fisik maupun mental, sehingga dia siap untuk menerima janji-janji Tuhan. Di samping itu, melahirkan di kemah suaminya, Abram, adalah sebuah cara untuk mendapat pengakuan atau keabsahan bagi anaknya. Luar biasa, Hagar pun bersedia kembali kepada Sarai.

Menundukkan diri bukanlah perkara mudah. Apalagi menundukkan diri di bawah kuasa orang yang membenci kita. Tetapi, kadang-kadang itu merupakan cara Tuhan untuk melatih kita. Tuhan ingin melatih mental kita, kesabaran kita, bahkan iman kita. Untuk itu, jangan buru-buru mengeluh atau melarikan diri dari penindasan yang kita alami. Jalani saja dengan meminta kekuatan dari Tuhan. Pada waktunya, jika kita dianggap sudah siap, kita akan menerima berkat yang Tuhan janjikan kepada kita.

Manna Sorgawi, 4 November 2012

 

“Jika kamu mendapat kesusahan, ingatlah untuk menyimpan kesabaran.” – Horatius

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s