Hamba Yang Tersingkirkan (Seminggu Bersama Hagar – Hari 5)

Kejadian 21:8-16

Tidak ada orang yang senang disingkirkan! Apalagi jika disingkirkan dari posisi yang selama ini sudah terasa nyaman. Tetapi, Hagar harus mengalaminya. Hagar disingkirkan dari hadapan Abraham. Selama bertahun-tahun, dia sudah mendapat tempat sebagai ibu dari anak yang diharapkan menjadi pewaris Abraham. Ismael sendiri, seakan-akan sudah sah menjadi pewaris Abraham, karena memang saat itu tidak ada yang lain. Tetapi, semuanya buyar ketika Ishak lahir.

Pemicu dari penyingkiran itu adalah karena Ismael, anak Hagar, main dengan Ishak, anak Sara. Mungkinkah hanya karena main? Yang dimaksud dengan “main” di sini (Ibr, metsacheq) adalah mempermainkan. Ismael mempermainkan Ishak. Paulus menyebutnya dengan istilah “menganiaya”, “Tetapi seperti dahulu, dia, yang diperanakkan menurut daging, menganiaya yang diperanakkan menurut Roh, demikian juga sekarang ini.” (Gal 4:29). Tidak ada orang yang suka anaknya dipermainkan orang lain. Ismael saat itu bukan anak-anak lagi, usianya sudah 17 tahun, karena ketika itu Ishak baru disapih, yang menurut tradisi usianya 3 tahun. Ismael sudah tahu salah dan benar. Jadi, mempermainkan Ishak adalah tindakan yang disengaja. Tidak heran kalau hal ini menimbulkan kemarahan besar dalam diri Sara. Maka, Sara pun meminta Abraham mengusir Hagar beserta anaknya.

Dasar dari penyingkiran itu adalah keyakinan Sara tentang pewaris Abraham yang sesungguhnya. Keyakinan Sara ditunjukkan dalam perkataannya yang tegas, “… sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak.” Keyakinan Sara itu benar karena sesuai dengan janji Tuhan. Bahkan, Tuhan juga menguatkan apa yang diyakini Sara, yaitu ketika Dia berbicara kepada Abraham yang ragu-ragu (Kej 21:12). Hagar bersama anaknya memang harus disingkirkan, karena kalau tidak, pasti akan mengganggu proses penggenapan janji Tuhan tentang Ishak sebagai pewaris Abraham. Andai Hagar tidak disingkirkan, pasti dia tidak rela melihat Ishak menerima warisan dari Abraham, sementara Ismael tidak menerima apa-apa. Sudah pasti Hagar akan berusaha meminya Abraham untuk memberikan warisan kepada Ismael juga. Bisa dibayangkan betapa kacaunya keluarga tersebut jika hal itu benar-benar terjadi.

Sungguh, Hagar sakit hati, tetapi itulah kenyataan yang harus diterima. Harapan tinggal harapan, tidak akan pernah menjadi kenyataan. Hilang sudah masa-masa indah hidup bersama Abraham. Kini, hidupnya dibayang-bayangi oleh penderitaan dan kehinaan. Sebenarnya Abraham juga tidak tega, tetapi dia lebih menuruti firman Tuhan daripada perasaannya.

Kita tidak pernah bisa melawan ketetapan Tuhan. Yang diperlukan di sini adalah taat dan setia kepada ketetapan itu. Kadang kita harus menyingkirkan perasaan, bahkan perasaan sayang sekalipun, supaya kita dapat menjadi bagian dalam mewujudkan ketetapan Tuhan.

Manna Sorgawi, 5 November 2012

 

“Hambatan adalah hal-hal yang Anda lihat saat Anda mengalihkan pandangan dari tujuan.” – Henry Ford

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s