Hagar dan Anak Perhambaan (Seminggu Bersama Hagar – Hari 7)

Galatia 4:21-31

Hagar di dalam PB sama dengan Hagar di dalam PL, tetapi kali ini dikisahkan ulang oleh Paulus. Kisah Hagar di dalam PB hanya mengambil sebagian saja dari kisah Hagar di dalam PL. Paulus mengambil kisah Hagar untuk menjelaskan masalah perhambaan rohani, sekaligus dibandingkan dengan masalah kemerdekaan rohani.

Secara hukum, Hagar adalah seorang hamba dan tidak pernah menjadi orang merdeka, sekalipun dia pernah menjadi istri Abraham. Dengan demikian, anak yang dilahirkan Hagar adalah anak perhambaan. Ada tiga fakta penting yang berkaitan dengan anak perhambaan, yaitu:

Anak perhambaan dilahirkan menurut daging. Ismael disebut sebagai anak yang lahir menurut daging karena bukan merupakan anak perjanjian. Sara yang mendesak Abraham untuk mengambil Hagar menjadi istrinya dan melahirkan anak baginya. Sementara itu, anak perjanjian adalah anak yang lahir dari Sara. Proses mengandung dan melahirkan dari anak yang lahir menurut daging berjalan secara alami. Sebaliknya, ada mujizat yang terjadi dalam proses mengandung dan melahirkan dari anak perjanjian. Ada pekerjaan Yang Mahakuasa di sana. Jika dikaitkan dengan masalah rohani, anak perhambaan menunjuk kepada manusia pada umumnya yang lahir menurut daging, oleh keinginan seorang laki-laki. Sementara itu, anak perjanjian menunjuk kepada orang-orang yang sudah lahir baru, yang sudah lahir dari firman dan Roh. Di sini pun ada pekerjaan Yang Mahakuasa.

Anak perhambaan menganiaya anak perjanjian. Ismael menganiaya Ishak. Menganiaya di sini bisa secara fisik, bisa juga dalam kata-kata. Demikian juga dengan orang yang belum percaya, menganiaya orang percaya. Penganiayaan yang dilakukan terhadap orang percaya terjadi sejak gereja mula-mula sampai sekarang, bahkan sampai sesaat sebelum Yesus datang menjemput gerejaNya. Penganiayaan secara fisik sudah dirasakan oleh gereja mula-mula, dan sampai sekarang pun masih sangat nyata. Demikian juga dengan ejekan-ejekan yang dilontarkan kepada orang percaya, baik secara langsung maupun dalam bentuk tulisan.

Anak perhambaan akhirnya tersingkirkan. Yang menjadi pewaris Abraham adalah Ishak, sementara itu Ismael disingkirkan dari hadapan Abraham. Dalam kaitannya dengan masalah rohani, yang berhak mewarisi Kerajaan Sorga adalah orang percaya, sementara itu manusia pada umumnya harus tersingkir dari hadapan Tuhan.

Betapa bahagianya kita karena kita bukan anak-anak perhambaan. Kita adalah anak-anak perjanjian, anak-anak yang sudah lahir baru. Kalaupun saat ini kita mengalami aniaya, jangan berkecil hati, karena itu hanya sementara. Pada saatnya kita akan menerima warisan Kerajaan Sorga. Yang penting di sini adalah ketekunan dalam menghadapi setiap masalah, dan kesetiaan di dalam mengikut Tuhan.

Manna Sorgawi, 7 November 2012

 

“Orang yang bercita-cita tinggi adalah orang yang menganggap teguran keras baginya lebih lembut daripada sanjungan merdu seorang penjilat yang berlebih-lebihan.” – Thales

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s