Seminggu Bersama Pohon-Pohon dalam Alkitab 2 – Hari 3 Korma, Terukir dalam Bait Suci

1 Raja-raja 6:29, 32

Korma adalah tanaman palma (arecaceae) dalam genus phoenix. Pohonnya berukuran sedang dengan tinggi bisa mencapai sekitar 15-25 m. Pohon ini tumbuh secara tunggal atau membentuk rumpun. Daunnya memiliki panjang 3-5 m, dengan duri pada tangkai daun yang menyirip dan mempunyai sekitar 150 pucuk daun muda. Buah dari pohon korma berbentuk lonjong-silinder dengan panjang 3-7 cm dan berdiameter 2-3 cm. Ketika masih muda, warnanya merah cerah ke kuning terang. Buah korma memiliki kandungan tannin yang tinggi dan secara medis digunakan sebagai deterjen, artinya memiliki daya pembersih. Juga mengandung astringent yang berguna bagi usus yang bermasalah. Buah korma juga dipercaya dapat menyembuhkan sakit tenggorokan, pilek, meringankan demam, dan sejumlah keluhan lainnya. Bisa digunakan dalam bentuk infus, ramuan, sirup, atau pasta. Satu keyakinan tradisional mengatakan bahwa korma dapat menetralkan keracunan alkohol. Bubuk biji korma juga digunakan dalam beberapa obat-obatan tradisional. Di India, getah pohon korma digunakan untuk mengobati diare. Sedangkan akarnya digunakan untuk meringankan sakit gigi.

Korma telah menjadi makanan pokok di Timur Tengah selama ribuan tahun lamanya. Pohon korma diyakini berasal dari sekitar Teluk Persia dan telah dibudidayakan sejak zaman kuno, kemungkinan pada awal tahun 4000 SM. Di zaman Alkitab, korma pertama kali disebutkan ketika bangsa Israel tiba di Elim. Di tempat ini terdapat 12 mata air dan 70 pohon korma. Korma juga dibuat menjadi madu, dan dipercaya kata-kata “suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya” sesungguhnya merujuk kepada madu dari buah korma.

Nampaknya keberadaan korma sangatlah bermanfaat bagi banyak orang. Tidak heran kalau Salomo menghiasi pintu dan dinding di dalam Bait Suci dengan hiasan pohon korma, kerub dan bunga. Bentuk dari pohon korma yang bagus dan nyaman dilihat membuat Salomo memilih pohon ini untuk menghiasi dinding Bait Suci. Selain itu, pasti ada alasan tertentu lainnya yang membuatnya mengukirkan gambar pohon korma di rumah Tuhan yang mulia itu.

Sebagai orang percaya, kita seharusnya juga menghiasi dan memperindah rumah Tuhan, yaitu gereja, dengan keberadaan diri kita. Dengan segala talenta dan kemampuan yang Tuhan berikan, kita harus dapat menciptakan karya-karya dan pelayanan yang bermanfaat bagi keberadaan gereja di mana kita bertumbuh. Selain itu, kita juga harus membuat gereja menjadi tempat yang nyaman dengan sikap kita. Jangan jadikan gereja sebagai tempat untuk bersaing atau beradu kemampuan dengan orang lain. Jadilah seperti ukiran pohon korma yang indah di dalam Bait Suci yang membuat orang nyaman ketika melihatnya. Dengan kata lain, kehidupan kita di dalam gereja harus dapat menciptakan suasana yang damai. Karena itu, layanilah dengan tulus dan dengan segenap kemampuan untuk membangun gereja kita!

================================================================

Ini adalah kenyataannya, tidak ada pengajaran tanpa belajar. Satu membutuhkan yang lainnya. – Paulo Freire

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s