Sebuah Rahasia

Kolose 3:13

Beberapa hari ini kotaku digemparkan oleh sebuah berita di surat kabar. Seorang ibu mencari pelaku yang telah memperkosanya beberapa tahun silam. Bukan untuk dihukum melainkan meminta bantuannya untuk mendonorkan sumsum tulang belakang pada anak hasil pemerkosaan tersebut. Anak tersebut dikatakan telah menderita leukimia dan harus secepatnya mendapatkan pendonor. Satu-satunya orang yang bisa membantunya adalah si pemerkosa, yang adalah ayah kandungnya. Benar-benar kisah yang sangat tragis. Saat sedang makan malam, kami membahas kisah tersebut. “Aku sangat mengagumi Martha. Bila aku di posisinya, aku tak akan memiliki keberanian untuk memelihara anak hasil pemerkosaan. Aku lebih mengagumi lagi suami Martha, ia sungguh pria yang patuh dihormati, tak disangka ia dapat menerima anak yang demikian,” kataku pada suamiku. Suamiku bertanya, “Bagaimana pandanganmu terhadap pelakunya?” “Aku takkan pernah memaafkannya!” jawabku.

Keesokan harinya, suamiku mengajakku jalan-jalan. Ia adalah sosok suami yang sangat baik bagiku dan ayah yang baik bagi anak-anakku. Semua karyawan di kantornya juga sangat menghargainya. Bagi mereka, ia adalah seorang bos yang sangat baik. Siang itu, wajah suamiku terlihat sangat suram. “Mungkin ia lagi banyak masalah,” pikirku. Namun tak lama kemudian, ia mengajakku untuk berbicara serius. “Lina, sepertinya aku adalah ayah yang dicari dalam koran itu, aku ingin menyelamatkannya,” katanya. Aku mencari tanda bahwa ia sedang bercanda di dalam tatapan matanya. Namun tatapan mata itu mengatakan bahwa ia serius. Seperti ditusuk oleh beribu-ribu jarum, hatiku sakit. Aku bahkan tak sanggup untuk mengatakan apa pun. “Kau pembohong!” teriakku. Hanya kata itu yang mampu aku ucapkan. Aku langsung pulang ke rumah orang tuaku dan membawa serta ketiga anakku. “Memang benar, kita patut marah terhadap segala tingkah laku AJili, suamimu, di masa lalu. Tetapi, pernahkah kamu memikirkan, ia mau mengakui seperti itu, membutuhkan banyak keberanian bukan? Hal ini membuktikan bahwa hati nuraninya belum sepenuhnya terkubur. Apakah kamu mengharapkan seorang suami yang pernah melakukan kesalahan tetapi kini bersedia memperbaiki dirinya? Ataukan seorang suami yang selamanya menyimpan kebusukan ini di dalam hidupnya?” Nasihat orang tuaku sungguh membuatku sadar. Keesokan harinya, aku kembali ke rumah dan meminta suamiku untuk segera menolong anak itu.

Setiap orang memiliki kesalahan, namun ketika ia mau mengakui dan memperbaikinya, sudah sepatutnya kita memaafkannya. Tidaklah mudah untuk memaafkan kesalahan seseorang, tetapi dengan memiliki hati yang terbuka dan lapang, akan membuat kita dapat memaafkan orang lain. Kebesaran hati yang dipenuhi oleh kasih akan memudahkan kita untuk melepaskan pengampunan.

================================================================

Pikiran Anda akan menjawab sebagian besar pertanyaan jika Anda belajar untuk bersantai. – William S. Burroughs

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s