Sang Penakluk Sepanjang Masa

Ester 4:13-16; 8:16-17

Di usia yang ke-20 tahun, Alexander Agung harus menjadi seorang Raja Makedonia menggantikan ayahnya Raja Filipus II. Sejak ia diangkat menjadi Raja Makedonia, Alexander hanya memiliki satu tujuan di dalam hidupnya, yaitu menguasai seluruh dunia. Penaklukannya terhadap Persia menjadi salah satu kisah heroik tersukses di dalam sejarah. Ia memimpin pasukan 35.000 tentara dan berhasil meraih kemenangan demi kemenangan di sepanjang pantai Suriah, kemudian ke Phoenicia dan Tyre. Saat menjelajah tanah Afrika, Alexander Agung atau yang sering disebut Iskandar Agung ini terjebak di sebuah daerah tandus. Untuk mencari letak sumber mata air di tempat yang tandus tersebut, ia memerintahkan beberapa orang prajurit terbaiknya untuk menyusuri daerah tersebut. Tidak lama kemudian sang prajurit kembali dan melaporkan bahwa ia telah menemukan sebuah sumur yang hampir kering. Mereka lalu mengambil segelas air dari sumur tersebut untuk dipersembahkan kepada sang raja, yakni Alexander Agung. Prajurit tersebut berkata, “Terimalah segelas air ini Yang Mulia.” Sambil mengambil gelas itu dari genggaman prajuritnya, Alexander Agung bertanya kepada sang prajurit, “Di mana kalian menemukan air ini?” “Dari sebuah sumur yang sebentar lagi akan kering, Yang mulia,” jawab prajuritnya. Alexander Agung menunda untuk meminum air yang diberikan oleh prajurit-prajuritnya, dan kembali bertanya, “Apakah masih cukup untuk semua prajurit?” Prajurit terbaiknya pun menjawab, “Tidak Yang Mulia.” Mendengar jawaban itu, Alexander Agung segera menumpahkan air yang berada di dalam gelasnya ke atas tanah. Tindakan itu ia lakukan semata-mata bukan karena tidak menghargai jerih payah dari para prajuritnya, namun karena kepekaannya terhadap 35.000 prajurit-prajurit lainnya. Bagi dirinya, tidak pada tempatnya apabila seorang pemimpin meminum segelas air sementara di sekelilingnya kehausan. Meskipun ia seorang raja, namun ia mau merendahkan dirinya dan ikut merasakan kesusahan yang dialami prajurit-prajuritnya. Kepeduliannya mengajarkan setiap kita para pemimpin untuk tetap rendah hati.

Di dalam Alkitab kita dapat belajar dari Ratu Ester. Kehidupan di dalam istana tidak membuatnya lupa diri terhadap bangsanya yang akan dimusnahkan oleh Haman. Di saat seluruh bangsa Yahudi berduka karena akan dibinasakan, ia tidak tinggal diam. Ester ikut simpati di dalam duka yang dihadapi bangsanya. Bersama seluruh bangsa Yahudi, ia berpuasa dan ia juga mengatur strategi untuk menggagalkan rencana jahat Haman. Berkat usaha yang dilakukan Ester, seluruh bangsa Yahudi selamat. Jika Anda seorang pemimpin, mari tanggalkanlah keangkuhan Anda, belajarlah untuk tetap rendah hati, maka Anda akan mendatangkan kesejahteraan bagi pengikut Anda. Miliki kepekaan terhadap apa yang dirasakan anak buah Anda, sehingga Anda tidak menjadi batu sandungan bagi mereka.

================================================================

Perbedaan antara seseorang yang sukses dengan yang lain bukanlah kurangnya pengetahuan, tetapi kurangnya niat dan keinginan. – Vince Lombardi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s