Bukalah Hatimu

Ibrani 3:7-8

Dalam sebuah karya rabi Yahudi, Tuhan digambarkan berkata-kata kepada kaum Israel sebagai berikut, “Bukalah bagiKu pintu pertobatan selebar lubang jarum saja, maka Aku akan menjalankan kereta-kereta dan kuda-kuda melalui lubang itu.” Hal ini menggambarkan kepada kita bahwa “hati” memegang peranan yang paling penting dalam seluruh hidup kita. Tuhan bisa berkarya di dalam hidup kita atau tidak, itu tergantung pada apakah kita mau membuka hati kita kepadaNya atau tidak. Jika kita membuka hati kepadaNya, maka Ia akan berkarya secara leluasa di dalam hidup kita. Sebaliknya, jika kita menutup hati kepadaNya, maka Ia tidak bisa berkarya di dalam hidup kita. Sebab, Tuhan tidak pernah memaksa kita.

Hal ini bisa kita lihat dari hidup orang-orang Israel. Mereka telah melihat Tuhan melakukan mujizat-mujizat dan perkara-perkara besar di dalam hidup mereka. Mereka menyaksikan tulah-tulah yang menyerang bangsa Mesir, tangan Tuhan yang memimpin mereka menyeberangi Laut Teberau, manna yang turun dari Sorga, air yang memancar dari bukit batu, dan berbagai mujizat lainnya. Namun, tetap saja mereka mengeraskan hati dan memberontak kepada Tuhan. Mereka menutup hati kepada Tuhan sehingga Ia tidak bisa berkarya di dalam hidup mereka. Itulah sebabnya Tuhan memusnahkan mereka di padang gurun dan tidak bisa masuk ke Tanah Perjanjian. Tidak demikian dengan Yosua dan Kaleb, mereka percaya kepada janji Tuhan. Mereka membuka hati kepada Tuhan sehingga Ia bisa berkarya di dalam hidup mereka. Itulah sebabnya Tuhan membawa mereka masuk ke Tanah Perjanjian. Yosua dan Kaleb, serta orang-orang Israel yang dimusnahkanNya di padang gurun, melihat mujizat-mujizat yang sama dan menjalani hidup di padang gurun yang sama, namun mereka punya hasil yang berbeda. Mengapa? Karena mereka punya hati dan respons yang berbeda.

Banyak orang Kristen yang mengeraskan hati kepada Tuhan sehingga mereka tidak mengalami berkat-berkat dan penggenapan janji-janjiNya dalam hidup mereka. Itulah sebabnya banyak orang Kristen yang pergi ke gereja yang sama, mendengar khotbah yang sama, namun pulang dengan hasil yang berbeda. Orang yang satu diberkati dan merasakan sukacita, sedangkan orang lainnya tidak diberkati dan tetap bersedih hati. Seperti Petrus dan Yudas, punya Guru yang sama, yang sama-sama mengasihi mereka, mengajar mereka serta melibatkan mereka dalam setiap pelayananNya, namun mereka berbeda dalam hasilnya. Yudas menjadi seorang pengkhianat, sedangkan Petrus menjadi seorang pemimpin gereja.

Jika kita ingin mengalami berkat-berkat Tuhan dan mengalami janji-janjiNya tergenapi dalam hidup kita, maka hendaklah kita membuka hati selebar-lebarnya, sehingga “kereta-kereta dan kuda-kuda Tuhan” leluasa melintasinya.

================================================================

Hidup itu adalah seni melukis, tetapi tanpa penghapus. – Anonim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s