Ingat Momen Pertobatan

Kisah Para Rasul 26:12-20

Ada dua peristiwa penting dalam hidup John Wesley yang berkenaan dengan pertobatannya. Peristiwa pertama adalah ketika Wesley dalam perjalanan dengan kapal ke Amerika, pada tahun 1735. Di kapal itu ia bertemu dengan orang-orang Moravia dari Jerman. Ia kagum atas perjumpaan tersebut serta atas tanya jawab singkat mereka tentang keselamatan pribadi Wesley. Peristiwa kedua adalah pada tanggal 20 Mei 1738, ketika Wesley pergi ke sebuah perkumpulan Kristen di Inggris dan mendengar orang membacakan tafsiran Martin Luther tentang Kitab Roma, yang membahas karya Roh Kudus dalam menjamah hati orang berdosa. Ini dianggap sebagai tanggal pertobatan Wesley. Kedua peristiwa ini sangat berkesan bagi Wesley dan hal itu selalu memotivasinya untuk terus melayani Tuhan dalam hidupnya, sekalipun menghadapi banyak tantangan. Dalam pelayanannya, Wesley kerap kali mendapat tantangan dari orang-orang yang tidak menyukainya, mulai dari mengejeknya hingga melemparinya dengan batu. Namun, Wesley tidak pernah menyerah, ia setia melayani Tuhan hingga saat kematiannya.

Rasul Paulus juga punya pengalaman pertobatan yang sangat berkesan baginya, yang mana pertobatan tersebut juga memanggilnya sebagai rasul Tuhan Yesus. Itulah sebabnya ia berulang kali menceritakannya kepada orang lain, di berbagai tempat dan dalam berbagai kesempatan. Misalnya, ketika ia bertanya jawab dengan orang-orang Yahudi atau ketika ia menuliskan surat-suratnya kepada jemaat-jemaat. Pertobatannya tersebut diceritakannya juga kepada Raja Agripa, raja orang Yahudi, seraya menegaskan bahwa kepada panggilan Tuhan dalam hidupnya untuk memberitakan Kabar Baik, ia tidak pernah tidak taat. Dan memang, apa pun yang terjadi kepadanya, Paulus tetap setia memberitakan Kabar Baik seperti yang diperintahkan oleh Tuhan pada saat pertobatannya. Ketika ia menghadapi banyak tantangan di dalam hidupnya, ia selalu mengingat kasih karunia Tuhan yang telah menyelamatkannya dan memanggilnya menjadi seorang rasul. Ia sadar bahwa hidupnya di luar Kristus adalah sia-sia. Jadi, ia sangat bersyukur atas panggilan Tuhan dalam hidupnya dan tetap setia menjalankan panggilan tersebut, apa pun tantangan yang dihadapinya. Paulus menjadikan pertobatannya di Damsyik sebagai motivasi utamanya dalam melayani Tuhan.

Mungkin pengalaman pertobatan kita tidak sedahsyat pengalaman Paulus atau sedramatis pengalaman Wesley, tetapi fakta bahwa kita telah diselamatkan oleh Tuhan seharusnya telah cukup untuk membuat kita tetap bertekun dalam melayaniNya. Dengan selalu mengingat hal tersebut maka kita akan termotivasi untuk tetap setia dalam pelayanan, kendati banyak tantangan yang kita hadapi. Kasih karunia Tuhan yang telah menyelamatkan hidup kita harus menjadi motivator utama kita dalam melayaniNya. Dengan demikian kita tidak akan pernah berhenti melayaniNya, sebesar apa pun tantangan yang kita hadapi.

================================================================

Wajah yang cantik menaklukkan mata, tetapi sifat yang elok menaklukkan hati. – Anonim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s