Doa Bagaikan Lem

Roma 12:12; Kolose 4:2; 1 Tesalonika 5:17

Suatu kali aku menemukan sebuah pajangan yang ada di rumahku patah. Kemudian aku pun berniat untuk memperbaikinya. Tidak ada jalan lain selain menggunakan lem untuk melekatkan patahan pajangan tersebut ke bagian utamanya. Dan ketika aku sedang mengoleskan lem itu untuk melekatkan kedua bagian yang terpisah, sekonyong-konyong aku termenung. Muncul di dalam pikiranku bahwa terkadang dalam hal berhubungan dengan Tuhan, manusia pun sama seperti pajangan ini. Aku membayangkan bagian utama pajangan milikku itu sebagai Tuhan, dan bagian patahannya yang lebih kecil sebagai diri kita. Semestinya kita melekat kepada Tuhan, berhubungan dekat denganNya dan memiliki keintiman. Karena bagaimana pun juga Tuhan adalah Pencipta kita. Namun karena satu dan lain hal, kita mulai berpaling menjauh dari Tuhan. Kita terpisah, patah, dan tidak lagi melekat kepada Tuhan. Kesenangan hidup duniawi, pekerjaan, urusan rumah tangga, dan berbagai masalah lainnya dapat menjadi faktor utama mengapa kita menjauh dariNya. Lalu karena kita sudah terlalu nyaman dengan kehidupan kita sendiri, kita menjadi benar-benar melupakan Dia. Jika sudah begini kejadiannya, bagaimanakah hubungan kita dengan Tuhan menjadi pulih kembali?

Kemudian aku menatap kepada botol lem yang ada di tanganku dan berkata di dalam hatiku, “Inilah jawabannya!” Untuk bisa kembali melekatkan diri kita kepada Tuhan, kita membutuhkan lem. Kita harus mengoleskan diri kita dengan lem sehingga kita bisa menyatu kembali dengan Tuhan. Tetapi apakah lem yang dimaksudkan itu? Tentu saja lem tersebut adalah doa. Sebagai orang percaya, dia menjadi hal terpenting yang harus kita miliki di dalam kehidupan kita. Ungkapan yang berkata bahwa doa adalah nafas hidup orang percaya itu sangatlah benar. Tanpa doa, kita tidak akan bisa berbicara kepada Tuhan. Jika kita tidak berbicara kepadaNya, tidak mungkin kita bisa bergaul akrab denganNya. Jika kita tidak bergaul akrab denganNya, bagaimana Ia dapat menolong kita di dalam menghadapi segala permasalahan kehidupan kita? Ketika kita menjalani kehidupan ini sendirian tanpa adanya Tuhan, hidup kita akan terasa kosong dan kerohanian kita akan padam sama sekali.

Tuhan tidak menginginkan hal ini terjadi. Karena itu, dalam tiga suratnya yang berbeda, Paulus menyampaikan pesan singkat yang berbunyi “bertekunlah dalam doa” dan “tetaplah berdoa”. Paulus sangat menyadari bahwa kehidupan doa orang percaya sangat memengaruhi kerohanian dan kedekatannya dengan Tuhan. Tanpa kita memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan, kita akan semakin rentan terhadap bujukan untuk berbuat dosa. Dan jika hidup kita semakin jauh dari Tuhan, kita akan semakin dekat dengan Iblis. Karena itu, perbanyaklah berdoa. Tuhan selalu memiliki waktu untuk mendengarkan kita. Yang menjadi masalahnya, apakah kita bisa meluangkan waktu untuk Tuhan?

================================================================

Jangan pernah berkata “tidak bisa”, karena Anda belum mengerjakan apa-apa. – Anonim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s