Seminggu Bersama Simson – Hari 7 Pertobatan yang Terlambat

Hakim-Hakim 16:23-31

Pada tahun 1989, Jim Bakker, seorang hamba Tuhan yang sangat berpengaruh di Amerika saat itu, dijebloskan ke penjara dengan tuduhan menipu uang para pendukungnya sebesar 158 juta dolar. Ia dibebaskan secara bersyarat pada tahun 1994 setelah menjalani hukuman selama 5 tahun. Kasus Bakker ini berkaitan dengan pandangannya tentang Teologi Kemakmuran, yang mengajarkan bahwa semua orang percaya harus diberkati dan menjadi kaya secara materi. Syukurlah, Bakker bertobat di penjara. Ia mulai mempelajari Alkitab dengan sungguh-sungguh dan menyimpulkan bahwa Teologi Kemakmuran yang ia anut selama ini dan ia ajarkan kepada orang banyak, adalah salah. Ia menuliskan pertobatannya ini di dalam bukunya yang berjudul I was wrong.

Setelah beberapa lama di penjara, Simson rupanya mulai sadar akan kesalahan yang telah dilakukannya selama ini, sebagaimana dengan Jim Bakker. Simson juga tampaknya mulai sadar akan panggilan Tuhan semula dalam hidupnya, yakni untuk menyelamatkan umat Tuhan dari kuasa bangsa Filistin. Di samping itu, rambut Simson pun mulai tumbuh kembali, kekuatannya yang hilang akibat rambutnya yang dicukur, mulai pulih. Maka, ketika orang Filistin membawanya ke sebuah gedung untuk menyuruhnya melawak dan menjadikannya bahan tertawaan, ia pun berusaha membunuh mereka. Di gedung itu berkumpul 3000 orang Filistin, untuk mengadakan perayaan korban kepada dewa mereka, yang mereka yakini telah menyerahkan Simson ke tangan mereka. Dalam keadaan buta setelah kedua matanya dicungkil, Simson pun meraba-raba tiang penyangga gedung tersebut. Ia memegang kedua tiang penyangga gedung itu, dengan satu tangan di tiang kiri dan satu tangan lagi di tiang kanan. Kemudian ia berdoa kepada Tuhan agar ia diberi kekuatan sekali lagi saja sehingga ia bisa membalas orang-orang Filistin tersebut. Dan dengan sekuat tenaga ia pun mendorong kedua tiang gedung tersebut sehingga rubuh dan menewaskan semua orang yang ada di dalamnya. Namun, hal ini juga menjadi kematian Simson, ia ikut tertimpa gedung tersebut.

Sekalipun Simson telah bertobat, namun ia harus membayar mahal perbuatan-perbuatannya yang tidak taat kepada Tuhan. Tuhan mendengar doanya yang terakhir untuk membunuh orang Filistin, namun itu tak bisa meluputkannya dari kematian. Ketidaktaatannya jugalah yang membuat Simson tidak mencapai hasil yang maksimal selama 20 tahun sebagai hakim Israel. Orang Filistin yang dibunuhnya pada hari kematiannya, yakni 3000 orang, lebih banyak dari yang dibunuhnya selama ia hidup. Dan, tidak seperti para hakim sebelumnya, Simson tidak pernah berhasil membebaskan orang Israel dari kuasa orang Filistin.

Sekalipun kita telah bertobat atas dosa-dosa yang telah kita lakukan, namun konsekuensi dosa tersebut tetap kita terima. Kita tidak bisa menghindar dari hal tersebut, kita harus menuai apa yang kita tabur. Karena itu hati-hatilah dengan perbuatan kita.

================================================================

Dengan mendisiplin diri, maka banyak hal menjadi mungkin. – Theodore Roosevelt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s