My Power Bank

Matius 4:4; Lukas 11:28; Mazmur 1:3 

Suatu hari aku dan teman-teman pergi bertamasya ke Taman Safari, Puncak. Melihat pemandangan alam yang indah membuatku tak ingin melewatkan setiap hal yang kulihat dengan mataku. Hal itupun aku abadikan dengan mengambil foto pemandangan-pemandangan yang indah tersebut. Saat sedang asyik mengambil foto bersama teman-teman, tiba-tiba iPad kesayanganku mengeluarkan bunyi. Bunyi tersebut menandakan bahwa baterai iPad-ku telah habis dan perlu diisi ulang. Namun, karena aku berada di tempat wisata terbuka, rasanya tidak mungkin apabila mencari stop kontak listrik untuk mengisi ulang baterai iPad-ku. Terpaksa aku membiarkan iPad-ku mati total dan tidak bisa digunakan. Melihat hal itu, salah satu teman meminjamkanku sebuah alat kecil yang dapat kugunakan untuk mengisi ulang baterai iPad-ku yang habis, alat itu namanya power bank. Wow, sungguh praktis! iPad-kupun hidup lagi dan dapat digunakan untuk berfoto-foto kembali.

Hidup di zaman yang serba canggih sekarang ini membuat segalanya menjadi praktis. Begitu banyak alat elektronik yang dibuat oleh manusia. Semua itu dilakukan untuk satu tujuan, yaitu mempermudah segala sesuatu yang dikerjakan oleh manusia. Salah satu alat elektronik yang kini dibutuhkan oleh banyak orang ialah power bank. Power bank dilengkapi dengan kabel penghubung lengkap, sehingga dapat digunakan untuk bermacam-macam gadget, seperti handphone, smartphone, mp3 player, iPhone, iPad, PSP, kamera digital, dan berbagai gadget lainnya. Di mana pun kita berada, meski dalam posisi jauh dari stop kontak listrik, kita tetap dapat mengisi baterai gadget kita. Itu sebabnya power bank banyak diminati orang.

Bila hidup kita diibaratkan seperti handphone, kita pun akan memerlukan power bank. Power bank bagi hidup kita tak lain adalah firman Tuhan. Antara handphone dan power bank tidak dapat dipisahkan, demikianlah halnya hidup orang percaya dengan firman Tuhan yang seharusnya berjalan bersamaan. Itu sebabnya dalam Mat 4:4, Yesus menjawab Iblis, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Jadi manusia tidak hanya hidup dengan makanan jasmani saja, tetapi juga makanan rohani, yakni firman Tuhan! Tanpa firman Tuhan, manusia akan mati secara rohani. Oleh sebab itu hidup kita harus terus diisi dengan kebenaran firman Tuhan. Tahu firman saja tidak cukup! Sebagai anak-anak Tuhan kita wajib hidup sebagaimana yang tertulis dalam firman Tuhan. Merenungkan, memahami serta melakukan firman dalam kehidupan sehari-hari akan membuat iman kita terus bertumbuh. Pengenalan akan firman Tuhan membuat hidup kita semakin dekat kepada Tuhan. Biarlah firman Tuhan terus mengisi hari-hari kita. Dengan demikian, kehidupan kita tidak akan menyimpang dari jalan Tuhan.

=============================================================

Sangat mudah untuk menipu mata, tetapi sulit untuk menipu hati. – Al Pacino

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s