Bukan Tawanan Iblis

1 Petrus 5:8; Yakobus 4:7; Roma 6:23

Menyukai binatang jinak adalah hal yang wajar seperti anjing dan kucing. Karena rupanya yang imut dan jinak, hewan-hewan ini pun sering dijadikan hewan peliharaan. Bahkan anjing dijuluki sebagai sahabat terbaik manusia. Namun hal ini berbeda bagi seorang anak remaja putri dari Kanada yang bernama Lauren Fagen. Kecintaannya terhadap dunia satwa mendorongnya untuk menjadi seorang relawan di Pusat Rehabilitasi Satwa Moholoholo di Afrika Selatan. Seorang anak remaja putri biasanya akan membelai dan mencium seekor binatang yang jinak, namun Lauren Fagen tidak. Ia justru mendekati salah satu binatang buas yang ada di pusat rehabilitasi hewan tersebut, yakni singa. Ia berusaha menunjukkan kepeduliaannya terhadap singa tersebut, ia mendekat dan hendak mencium singa yang dianggap sudah jinak. Namun naas bagi Lauren, singa tersebut nampaknya merasa bahwa anak remaja putri itu sedang mengganggu kenyamanannya. Tanpa belas kasihan, binatang yang buas itu langsung menerkam lutut Lauren, menariknya menuju kandang dan menggerogotinya bersama singa yang lainnya. Dalam keadaan tak berdaya, remaja putri ini hanya bisa berteriak, menangis dan minta tolong. Beruntung baginya, salah seorang perawat hewan, Natalie Benneth, datang menyelamatkan Lauren. Ia mengalihkan perhatian singa itu dengan sapu, karena merasa takut, singa tersebut melepaskan cengkeramannya. Natalie segera menarik Lauren keluar dari kandang singa tersebut, sehingga nyawa Lauren pun dapat diselamatkan. Lauren mengalami pendarahan yang hebat, lutut dan pahanya sobek akibat gigitan singa. Lauren mengaku sebelum singa tersebut menyerangnya, singa itu tampak sangat jinak, sehingga ia berani mendekatinya. Namun binatang buas tetaplah binatang buas, sejinak apa pun, singa tetaplah binatang buas yang instingnya memburu, menerkam, dan memakan mangsanya sampai mati!

Cerita di atas mengingatkan kita kepada kehidupan orang percaya yang masih senang hidup dalam dosa. Dosa awalnya tampak begitu menarik dan menggoda, namun justru membawa kita kepada maut, yakni kematian kekal di Neraka. Di dalam Alkitab, Iblis digambarkan seperti singa yang mengaum-ngaum mencari mangsanya. Siapakah mangsa Iblis? Tentu yang menjadi mangsanya ialah kita, orang-orang percaya. Iblis selalu berusaha untuk membujuk, menipu, dan merayu sehingga kita menjadi tawanannya dan kemudian jatuh dalam perbuatan dosa. Kepada jemaat di Asia Kecil, Petrus menasihati agar mereka sadar dan terus berjaga-jaga untuk melawan Iblis dengan teguh.

Sebagai orang percaya seharusnya kita tidak lagi hidup dalam dosa, karena kita telah diselamatkan melalui pengorbanan Yesus. Tempat kita bukanlah bersama Iblis di Neraka, melainkan kehidupan kekal di Sorga bersama Yesus. Oleh sebab itu, jauhilah perbuatan dosa, hiduplah dalam terang kebenaran firmanNya sehingga Anda tidak menjadi tawanan Iblis!

=============================================================

Semua orang yang berada di sekitar saya adalah jembatan untuk keberhasilan saya, sehingga mereka semua penting. – Manny Pacquiao

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s