Seminggu Bersama Yokhebed – Hari 6 Mewariskan Iman

1 Timotius 1:5

Saya yakin bahwa semua orang tua tentu sangat ingin mewariskan sesuatu yang berguna dan berharga di dunia ini untuk anak-anaknya, entah itu berupa harta benda ataupun pendidikan yang baik. Yang jelas semuanya itu kelak diharapkan dapat menjadi bekal untuk anak-anak mereka. Jadi, tidak heran jika banyak orang tua yang bekerja mati-matian membanting tulang untuk mempersiapkan warisan tersebut. Tidak dapat dimungkiri bahwa harta dan pendidikan yang baik adalah bekal yang berguna dan berharga bagi anak-anak kita kelak. Akan tetapi, ada satu hal yang tidak kalah pentingnya, yang tidak boleh terlupakan atau terabaikan, yaitu mewariskan iman percaya kita kepada mereka. Sebagai orang percaya, mewariskan iman kepada anak-anak kita adalah prioritas utama yang harus diperhatikan. Sebab, hanya melalui imanlah, anak-anak kita akan hidup menjadi pribadi yang berguna dan berharga.

Mengenal hal ini, telah banyak bukti yang bisa kita lihat, salah satu contohnya adalah kehidupan Musa. Nama Musa telah terukir di dalam sejarah. Ia adalah salah satu pelopor iman dan jasanya pun telah dikenal oleh dunia. Dengan imannya, ia telah membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir, ia membelah Laut Teberau, dan ia berhasil memimpin bangsa yang besar. Dalam hal ini, Amram dan Yokhebed selaku orang tua dari Musa, benar-benar berhasil meletakkan dasar iman di dalam diri Musa, sehingga Musa juga mewarisi iman yang sama dengan mereka.

Mewariskan iman memang bukan perkara mudah. Seperti perhiasan, semakin rumit pembuatannya dan semakin baik kualitasnya, maka harga jualnya pun akan semakin mahal. Demikian halnya dengan iman yang ingin kta wariskan kepada anak-anak kita. Bila besar harapan kita untuk mewariskan iman yang murni kepada mereka, maka harus besar juga usaha kita untuk membuat iman itu bertumbuh di dalam hati mereka. Perkenalkanlah Tuhan setiap saat kepada mereka. Janganlah jemu, apalagi lalai memperdengarkan firman Tuhan, sebab melalui pendengaran akan firman Tuhan, iman akan timbul di dalam hati mereka (Rm 10:17). Sebagaimana Yokhebed juga telah melakukan hal yang sama. Walau cuma sesaat merawat Musa, tetapi ia memanfaatkan waktu yang singkat itu untuk memperdengarkan firman Tuhan kepada anaknya, seperti kebiasaan nenek moyangnya. Selain memperdengarkan firman Tuhan, kita pun harus bisa menjadi pelaku firman di hadapan anak-anak kita. Dan, tentu ini juga yang dilakukan Yokhebed di hadapan Musa. Disadari atau tidak, anak-anak sangat senang meniru apa pun yang dilakukan oleh orang tuanya. Untuk hal ini, mintalah pertolongan Roh Kudus agar memampukan kita dalam menerapkan firman Tuhan di dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita berhasil menerapkan hal-hal tersebut di atas, bisa dipastikan kelak iman kita akan diwarisi oleh anak-anak kita.

=============================================================

Tenanglah seperti sebuah gunung, dan mengalirlah seperti sungai besar. – Anonim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s